Membina Akhlak Mulia, Badan Sehat dan Pribadi yang unggul.
Sinar Perak mengajarkan banyak hal dalam usaha mencapai kesehatan jasmani dan rohani.

Pengalaman yang ingin kami bagikan tentang Sinar Perak kepada masyarakat luas dalam berbagai kegiatan seperti olahraga, usaha pengenalan yang mendalam tentang penyakit, asal muasalnya dan upaya penyembuhannya, serta perbaikan perilaku sehari-hari sehingga bisa menjadi manusia yang ber Akhlak Mulia, Sehat dan juga ber-ke-Pribadian Yang Unggul

Showing posts with label REAL EXPERIENCE. Show all posts
Showing posts with label REAL EXPERIENCE. Show all posts

Thursday, January 10, 2008

Ren Mobilis-ku sembuh dengan Sinar Perak

Sekitar bulan Mei tahun 1998 saat saya harus menyelesaikan kuliah (S2), ada gangguan kesehatan yang menyiksa. Berawal dari rasa sakit di pinggang kanan dan perut kanan bawah yang sangat mengganggu aktivitas, mulailah saya bolak-balik ke dokter untuk mencari kesembuhan.
Dugaan awal dokter keluarga adalah usus buntu yang meradang. Setelah melalui pengobatan yang panjang, penderitaan tidak berkurang, malah parah. Rasa sakit bertambah dan menjalar hingga kaki paha kanan terus ke bawah hingga telapak kaki. Pekerjaan di kantor menjadi terbengkalai karena untuk duduk lebih dari 1 jam saja saya tidak kuat, setiap kali harus berbaring untuk meluruskan punggung selama + 10 menit baru bisa beraktivitas lagi.
Setelah sekian kali bolak-balik ke rumah sakit untuk periksa organ dalam di sekitar pinggang dan perut, akhirnya dokter menegakkan diagnosa akhir : Ren Mobilis. Arti harafiahnya ; ren adalah ginjal, sedangkan mobilis adalah bergerak.

Itulah yang terjadi ... pada kondisi normal, kedua ginjal kita terletak di sekitar ... tulang belakang, yang sebelah kanan lebih kebawah sedikit karena didekatnya ada hati (lever). Pada kondisi saya, ginjal kanan bisa bergerak turun sampai ke rongga perut dan mendesak usus2 hingga menimbulkan rasa sakit. Penyebab turunnya ginjal ini diduga karena lemahnya otot penggantung ginjal. Pada posisi berbaring, ginjal kanan ini bisa kembali ke posisi semula. Pada saat ditemukan kondisi tersebut, dokter (internis) langsung menyarankan untuk operasi. Namun karena takut, saya pindah dokter untuk mendapatkan second opinion. Dokter berikut dipilih spesialis bedah urinologi, yang prakteknya di depan RS. Telogorejo. Dari dokter ini diberikan solusi awal untuk mengikat perut dengan korset, caranya unik, pasien musti berbaring dulu (untuk mendapatkan posisi ginjal pada tempatnya) kemudian pasang korset, baru boleh berdiri. Terapi dengan memasang korset ini cukup membantu namun tidak bertahan lama, selain repot, pada jam makan seringkali terasa sangat menyesakkan karena perut tidak bisa melar.
Akhirnya saya kembali ke dokter dan disarankan untuk operasi, dengan diberikan pemahaman2 bahwa hasil operasi mungkin 50% (ada kemungkinan masih merasakan sakit). Prosedurnya pun cukup mengerikan (diterangkan dengan gamblang oleh dokternya), karena operasi akan membuka punggung bagian samping untuk membuat jaringan ikat pada ginjal agar tidak turun2 lagi. Setelah operasi pasien tidak boleh berbaring terlentang selama 2 minggu. Surat rujukan untuk rumah sakit sudah ditangan, tinggal menunggu hari ....
Dalam kondisi gundah gulana tersebut, saya bertemu dengan seorang teman yang juga aspel (asisten pelatih) di Sinar Perak. Melalui teman tersebut, saya diajak untuk berobat ke klinik (waktu itu masih di Jl. MT. Haryono, Semarang) dan disarankan untuk ikut latihan senam pernafasan Sinar Perak di lapangan UNDIP. Selama latihan, sedikit demi sedikit rasa sakit berkurang, niat operasi sudah terlupakan, namun korset belum berani saya lepaskan. Hingga sampailah waktu ujian kenaikan tingkat di Yogya .... jadwal yang ketat, membuat saya tidak sempat untuk memasang korset dan setengahnya juga lupa, karena rasa sakit sudah jauh berkurang. Acara diawali dengan lari keliling lapangan ... . Selesai berlari, baru sadar kalau saya tidak ”berkorset”, rasa panik mulai menyerang .... karena biasanya setelah beraktifitas fisik (terutama yang ada hentakan-hentakan kaki), langsung sakit itu datang. Namun rasa panik segera reda, karena sungguh aneh ... rasa sakit yang selama ini mendera ... sudah pergi entah kemana. Sejak saat itu, saya tidak berteman dengan korset lagi.
Mau tahu penyebab ren mobilis saya menurut SP? Sebabnya adalah .... selama ini saya kurang mensyukuri nikmat Allah. Dalam menjalani kehidupan .... saya masih banyak mengeluh, ngedumel, dll ... Kayaknya sepele ya ... tapi efeknya begitu berat. Selama konsultasi di klinik, latihan di Undip saya disarankan untuk introspeksi perilaku selama ini, kemudian memohon ampunan kepada Allah SWT (istiqfar yang benar-benar sangat dalam dengan sholat malam) dan di kehidupan sehari-hari tidak lagi mengeluh ... apapun yg terjadi selalu harus disyukuri.

Itulah yang terjadi ... dengan Sinar Perak, saya terhindar dari operasi ginjal yang cukup mengerikan. Hingga saat ini (awal 2008), kondisi ginjal saya alhamdulillah tetap baik dan saya masih setia mengikuti latihan senam pernafasan ini pada hari minggu pagi di lapangan parkir Telkom, Jl. Pahlawan, Semarang. Di lingkungan Sinar Perak ini, saya merasakan ikatan persahabatan yang sangat erat, setiap personil saling peduli satu-sama lain, saling mendukung, saling mengingatkan untuk selalu sabar dan tawakal dalam menjalani hidup. Dengan tetap bergabung di Sinar Perak (sejak 1998) hingga sekarang (2008) saya merasa mendapatkan anugerah ganda : (1). badan yang tetap bugar dengan latihan senam pernafasan dan (2). ketentraman hati dengan selalu sabar, tawakal dan menjaga akhlak yang baik. Maaf ya ... curhatnya kepanjangan ...

Posting ini ditulis apa adanya oleh seorang ibu anggota SP di Semarang.

Saturday, May 19, 2007

Pertama Kali Siswa Mengenal SP

Hari Jum'at malam biasanya di klinik Sinar Perak Semarang, Jl. Kridonggo II/40 Semarang, para siswa berkumpul bersama dengan Aspel.
Materi yang diberikan berkaitan dengan pengobatan dan akhlak mulia, untuk yang sudah mendapatkan materi pengobatan biasanya dapat langsung praktek dengan pasien yang datang keklinik.
Setelah para pasien pulang seringkali diadakan pembicaraan secara santai mengenai masalah SP atau hal-hal yang umum yang bisa dikaitkan dengan akhlak mulia, nah kebetulan materi yang di bicarakan hari Jumat, 18 Mei 2007 adalah pengalaman dari para siswa dan aspel tentang bagaimana mereka pertama kali mengenal SP, dan beberapa perubahan yang didapat.
Sangat menarik sekali dari pengalaman yang disampaikan, beberapa ceritanya dapat ditelaah berikut ini ;
Seorang bapak yang kebetulan menderita sakit di mata beliau karena adanya selaput yang tiba-tiba ada pada hari Senin, yang oleh dokter mata diminta untuk datang lagi hari Kamis untuk diperiksa teliti dan harus ditutup dua matanya karena sakit tersebut. Kebetulan bertemu dengan seorang Aspel SP yang menyarankan untuk mengingat kesalahan yang dilakukan berkaitan dengan apa yang dia lihat sebelum sakit, dan kemudian melakukan sholat Tahajud, memohon ampun dan mohon kesembuhan dengan tulus ikhlas. Ternyata sebelum hari Kamis, mata beliau sudah sembuh tanpa perlakuan medis apapun.
Subhanallah, beliau merasa sangat tertarik dengan metode pengobatan tersebut, dan kemudian berkenan mengikuti latihan Sinar Perak.
Ada yang menderita kanker yang cukup ganas dan satu-satunya jalan menurut dokter adalah operasi. Oleh rekannya, beliau disarankan untuk mencoba pengobatan alternatif yang ada sebelum maju ke meja operasi. Dengan setengah percaya dan hanya untuk menyenangkan hati temannya, beliau bersedia datang ke klinik SP. Waktu itu bertemu dengan Aspel yang menerangkan masalah penyakit dipandang dari segi Islami. Ternyata kemudian tanpa operasi Alhamdulillah kankernya dapat diatasi, dan sejak itulah beliau bergabung dengan SP.
Seorang rekan yang semula mengantarkan ibunya menderita stroke ke klinik SP, mendengarkan setiap saran dari Aspel yang mengobati ibunya ternyata penyakit ibunya berkaitan dengan sifat. Hal yang sama sekali jauh dari pemikiran beliau sebelumnya bahwa beliau kemudian menelaah dari kakeknya, pakdhenya sampai ke ibunya yang menderita stroke ternyata mempunyai sifat sama. Beliau bertanya kepada 'orang pintar' yang lain, apakah sifat dapat diubah, tapi jawabannya bahwa sifat tidak akan dapat berubah dan akan dibawa sampai mati. Kembali beliau ke Aspel yang menerangkan penyakit turunan tersebut dapat di cegah, Insya Allah dengan merubah dan menghilangkan sifat-sifat buruk yang sama dengan orangtuanya terdahulu. Subhanallah, di SP ternyata mengajarkan sesuatu yang sama sekali tidak beliau bayangkan sebelumnya. Dan mulai saat itu beliau menjadi siswa SP.
Untuk rekan-rekan SP lain yang kebetulan berkunjung di Semarang, bersiap ya untuk bercerita pengalamannya di Sinar Perak dan kegiatan SP di daerahnya. Kebetulan pas ada rekan dari SP Jakarta datang, seorang ibu bercerita sebagai berikut ;
Sebelum ikut SP, kalo dekat anak-anak, pasti anak tersebut menangis dan ketakutan sampai bertahun beliau mengalaminya. Sampai kemudian putrinya mau melahirkan, beliau berpikir bagaimana kalo nanti cucunya menangis dan ketakutan kalo lihat neneknya.
Kebetulan sepupunya ada yang sudah ikut SP dan beliau disarankan ikut hadir di pengajian mas Dhanu dan merasa cocok akhirnya beliau ikut SP. Yang Alhamdulillah sampai sekarang kondisinya sudah pulih dan anak-anak tidak perlu takut lagi dengannya.
Banyak sekali sebenarnya, tapi sementara cukup ini dulu. Semoga bisa menjadi pelajaran berharga yang menjadikan kita lebih tunduk, sujud pada Allah yang Maha Luas ilmuNYA. amien.

Monday, September 11, 2006

Sakit Jantung

Wow.... judulnya serem ya.
Cuma ingin cerita apa yang dialami temen SP, namanya sih tidak usah disebutkan ya. Karena persaudaraan dan kekeluargaan di SP, masing-masing kita saling terbuka, bercerita dan mengambil pelajaran dari setiap permasalahan yang ada.

Sebelumnya temenku tuh berobat di klinik SP, dan sakit jantungnya memang lumayan parah (kenalan dia yang dulu sama-sama di rawat di rumah sakit, cuma bertahan sebentar dan sudah lama meninggal dunia.. Inalillahi wa inailaihi roji'un).

Berobat ke SP memang tidak bisa sekali sembuh, tetapi harus telaten dan mengikuti nasehat yang diberikan. Dia mendapat masukan dan petunjuk tentang sebab-sebab sakit jantungnya itu, sampai kemudian sakitnya banyak berkurang dan dia tertarik ikut SP (wah..... hampir sama ceritanya dengan siswa-siswa lainnya.... he.. he.., dimulai dari sakit dulu baru kenal SP).

Kemudian dia mulai ikut latihan dan semakin banyak ilmu dan nasehat yang didapat dari Asisten Pelatih (aspel). Yang terutama harus di hilangkan adalah dia harus lebih bisa menenangkan diri, menghilangkan rasa khawatir yang berlebihan dalam dirinya dan lebih menahan emosinya yang seringnya lepas kontrol.

Jelasnya menghilangkan rasa khawatir yang berlebihan mengajarkan kita untuk lebih pasrah dan ikhlas, apapun yang kita miliki saat ini jiwa, raga, harta dan keluarga adalah semuanya dari Tuhan semata. Kita berusaha, bertawakal menjaga sebaik-baiknya, namun yang menentukan hasilnya adalah Tuhan Semesta Alam.

waahh... apalagi ya..

o iya, waktu tiba-tiba telinga kirinya sakit dan tiba-tiba tidak bisa mendengar, dia harus banyak minta ampun, istighfar karena ternyata selama ini tidak mau mendengar nasehat orang lain, bahkan cenderung emosi, walaupun dia yang salah.

Alhamdulillah sakit jantung dan sakit telinganya sembuh, selama ia tetap berada di jalur yang diridhoi Allah dan berupaya senantiasa berakhlak mulia.

Apapun, semuanya bisa jadi pelajaran bagi kita semua, membuat kita mawas diri dan berupaya menjadi baik setiap saat. Semoga.

Wednesday, September 06, 2006

Pertama ku mengenal SP

Sekitar bulan Juni 2001 saya mengalami sakit pinggang yang amat sangat. Obat dan perawatan fisioterapi yang saya jalani di sebuah rumah sakit di Semarang tidak ada kemajuan yang berarti, bahkan test laboratorium yang dilakukan tidak bisa menunjukkan jenis penyakit yang saya derita. Saya juga sempat pijat dan juga refleksi, tapi sama saja hasilnya, saya masih saja sakit.

Alhamdulillah dari kakak, saya mengenal seorang asisten pelatih/Aspel (istilah pelatih di SP) yang kebetulan banyak dimintai tolong untuk mengobati orang sakit.
Dengan cara pengobatan yang dilakukan (versi SP) plus pemberitahuan dari Aspel tersebut, simple saja yang harus segera saya benahi untuk sembuh : Jangan suka marah meskipun itu terpendam, kalau mau marah kalau sudah bisa membaca pikiran orang lain (emangnya bisa baca pikiran orang lain ?).

Sangat sederhana, tapi itulah yang kemudian membuat saya berkeinginan untuk ikut latihan di Sinar Perak. Bukan karena ingin membaca pikiran orang lain tapi karena di balik ' tidak marah ' itulah yang menimbulkan rasa ingin tahu lebih mendalam tentang sinar perak.

Bulan September berikutnya saya mulai ikut latihan di Semarang, di auditorium UNDIP saat itu.

Dan Alhamdulillah sakit pinggang saya sembuh, dengan mengikuti latihan tersebut ditambah banyak masukan dari para pelatih tentang upaya untuk terus memperbaiki diri, sesuai tuntunan agama.

Ini cerita pengalaman dari seorang kawan sampai dia tertarik untuk latihan Sinar Perak hingga saat ini.

Semoga Allah menunjukkan jalan yang terbaik bagi kita semua. amien.